Archive

Archive for September, 2009

bahasa indo vs bahasa malay

09/04/2009 5 comments

INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh (ngajak berantem!?)

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa (oh please deh)

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi (Kalo Angkatan Laut berarti Laskar Hentak-Hentak Air dong!)

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin-Angin (tarik maang..tukang kerokan angin bakal laku disana)

INDONESIA : ‘Pasukaaan bubar jalan !!!’
MALAYSIA : ‘Pasukaaan cerai berai” Read more…

Advertisements

Akibat Terlalu sering maen Dota

09/04/2009 5 comments

Akibat Terlalu sering maen Dota..

1.kalo di depan nya ada kakek-kakek yg jalan nya lama dan ngehalangin dia pasti langsung ngomong

“buset dah tu kakek kakek lagger”

2.abis itu si kakek mati tanpa aba-aba sedikit pun dia pasti langsung bilang

“Wah dah lagger, DC lagi”

3.kalo ke dapur dan pegang piso selalu berhayal dan bicara

“wah gw blink kmn ya ?”

4.kalo di mall liat cwe cantik jalan ama cwo jlek pasti langsung bilang

“Wah pasti Gondarnya kaya karna ulti” Read more…

You’re my best friend

you make me live
whatever this world can give to me
It’s you, you’re all I see

I’ve been with you such a long time
You’re my sunshine

you make me live
I’ve been wandering round
But I still come back to you
In rain or shine
You’ve stood by me girl

you’re making me live
Whenever this world is cruel to me
You help me forgive
You’re the first one
When things turn out bad
You know I’ll never be lonely

And I want you to know
That my feelings are true
I really love you
You’re my best friend

Special Edition :Puasa Part3

Hal-Hal yang Dapat Membatalkan Puasa, terbagi menjadi 2 (dua) macam:

I.                   Membatalkan pahala puasa, ada 6 (enam):

1.     Ghibah, yaitu menyebutkan sesuatu tentang seseorang ketika orang tersebut tidak ada, sekiranya dia mendengar, dia akan merasa tidak suka, walaupun isi pembicaraan itu benar adanya.

2.     Namimah, yaitu menyebarkan berita dengan tujuan terjadinya fitnah.

3. Bohong.

4.     Melihat sesuatu yang diharamkan, atau melihat sesuatu yang halal namun dengan syahwat.

5. Sumpah palsu.

6.     Berkata keji, atau melakukan perbuatan keji.

II. Membatalkan puasa, baik membatalkan pahalanya maupun puasa itu sendiri (karenanya wajib qadla):

1. Murtad, yakni keluar dari Islam, baik dengan niat dalam hati, perkataan, perbuatan, walaupun perbuatan murtad tersebut sekejap saja.

2. Haid, nifas, atau melahirkan, walaupun sekejap saja di siang hari.

3. Gila, walaupun sebentar saja.

4. Pingsan dan mabuk (jika memakan waktu sepanjang siang). Adapun jika siuman, walaupun sebentar saja, menurut Imam Ramli sah puasanya. Menurut Ibnu Hajar, batal puasanya jika mabuknya disengaja, walaupun cuma sebentar. Read more…

Special Edition : Puasa Part2

Kewajiban Puasa Ramadhan

Wajib Puasa Ramadhan setelah didapati salah satu dari 5 (lima) hal. Dua hal bersifat umum, dan tiga hal bersifat khusus.

Adapun dua hal yang bersifat umum adalah:

  1. Setelah sempurnanya bulan Syakban 30 hari.
  2. Terlihatnya bulan/hilal dengan persaksian dari seorang yang adil (bukan fasiq), lelaki, merdeka, rasyid (bijaksana), tidak tuli, tidak buta, sadar, tidak melakukan dosa besar, tidak punya kebiasaan selalu melakukan dosa kecil, taatnya lebih banyak dari pada maksiatnya.

Maksud “bersifat umum” adalah: wajib puasa bagi seluruh penduduk wilayah tersebut, juga bagi orang yang berada dalam satu mathla’ (terbit dan terbenamnya matahari waktunya sama), ini menurut pendapat Imam Nawawi. Sedang menurut Imam Rafi’i, wajib atas penduduk yang berada di wilayah tersebut dan juga penduduk yang berada sampai sepanjang jarak qashar (82 Km).

Adapun tiga hal yang bersifat khusus adalah:

  1. Dengan melihat hilal, maka wajib bagi orang tersebut untuk berpuasa, meski dia orang yang fasiq.
  2. Seseorang diberitahu tentang terlihatnya hilal. Dalam hal ini ada 2 (dua) kemungkinan:

–          Jika pembawa berita adalah orang yang dapat dipercaya, wajib puasa di hari itu, baik yang menerima berita yakin dengan kebenaran beritanya atau tidak.

–          Jika pembawa berita bukan orang yang dapat dipercaya, maka tidak wajib puasa hari itu, kecuali jika si penerima berita yakin dengan kebenaran beritanya.

  1. Dengan sangkaan yang merupakan hasil ijtihad,  seperti mendengar semacam petasan atau ‘blenggur’ yang biasanya digunakan untuk menandai masuknya bulan Ramadhan.

v     Permasalahan-Permasalahan Penting tentang Terlihatnya Hilal

1.           Seseorang mendapat berita dari orang yang dia yakini kebenaran beritanya, bahwa hilal telah terlihat, kemudian dia berpuasa Ramadhan. Setelah 30 hari berpuasa Ramadhan, hilal untuk menandai berakhirnya bulan Ramadhan dan datangnya bulan Syawwal tidak kunjung terlihat juga, apakah boleh dia tidak berpuasa pada hari ke-31, walaupun hilal saat itu tidak terlihat?

Menurut Imam Ramli, dia boleh tidak berpuasa, namun dengan cara yang tidak ditampak-tampakkan di depan umum. Sedang menurut Imam Ibnu Hajar, dia tetap wajib berpuasa.

2.           Jika seseorang melakukan perjalanan, berangkat dari daerahnya di akhir bulan Syakban dan dia dalam keadaan tidak berpuasa karena di daerahnya hilal belum terlihat. Setelah sampai di daerah tujuan, dia mendapati penduduk daerah tersebut sedang berpuasa karena di wilayah tersebut hilal telah terlihat, bagaimanakah hukumnya? Atau sebaliknya, dia bepergian dalam keadaan berpuasa karena di daerahnya hilal telah terlihat, kemudian di daerah tujuan, penduduknya belum berpuasa, bagaimanakah hukumnya?

Dalam kasus pertama, jika orang tersebut mendapati mereka sedang berpuasa, maka orang tersebut wajib pula berpuasa seperti penduduk daerah tersebut. Sedang dalam kasus kedua, jika orang tersebut mendapati mereka belum berpuasa, menurut Imam Ramli dia membatalkan puasanya. Sedang menurut Imam Ibnu Hajar, dia tidak boleh membatalkan puasanya, karena puasanya tersebut dibangun atas keyakinan terlihatnya hilal, maka dia tidak boleh melanggar keyakinannya tersebut.

3.           Jika seseorang melakukan perjalanan dari wilayahnya pada akhir bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa, karena hilal belum terlihat, atau sebaliknya, dia sudah tidak berpuasa lagi karena hilal telah terlihat. Setelah sampai di daerah tujuan, dia mendapati penduduknya sudah tidak berpuasa sedang dirinya masih berpuasa, atau sebaliknya, dia mendapati penduduk daerah tersebut masih berpuasa, sedang dirinya sudah tidak berpuasa, bagaimanakah hukumnya?

Dalam dua contoh kasus di atas, menurut pendapat terkuat, dia wajib mengikuti apa yang dilakukan oleh penduduk daerah tersebut, karena saat itu dia menjadi bagian penduduk daerah tersebut.

v     Sunnah-Sunnah Berpuasa dan Bulan Ramadhan

1.       Mempercepat (ta’jil) buka puasa jika sudah yakin masuk waktu berbuka (yakni terbenamnya matahari). Jika ragu, maka dia harus berhati-hati dengan menunda sebentar buka puasa sampai merasa yakin dengan masuknya waktu berbuka.

2.       Sahur, walaupun dengan seteguk air. Masuk waktu sahur mulai pertengahan malam.

3.       Mengakhirkan sahur di akhir malam. Disunnahkan untuk berhenti makan sebelum terbitnya fajar seukuran membaca 50 ayat (seperempat jam).

4.       Berbuka dengan kurma muda (ruthab), jika tidak ada maka dengan kurma, jika tidak ada maka dengan air zamzam, jika tidak ada maka dengan air biasa, jika tidak ada maka dengan makanan manis yang masak tanpa menggunakan api (seperti madu atau kismis), jika tidak ada maka makanan manis yang masak dengan api.

5. Berdoa saat berbuka, lafadz yang terpendek adalah: “Allahumma laka shumtu, wa bika aamantu, wa ‘ala rizqika afthartu”.

6. Memberi makan untuk orang yang berbuka.

7.       Jika berhadats besar, disunnahkan mandi janabah / mandi besar sebelum terbit fajar.

8.       Mandi di malam hari setiap ba’da Maghrib di bulan Ramadhan, supaya lebih giat untuk qiyamul lail (tarawih, tadarrus, dll).

9.       Senantiasa melaksanakan shalat Tarawih selama bulan Ramadhan.

10.  Senantiasa melaksanakan shalat Witir. Shalat Witir pada bulan Ramadhan mempunyai kekhususan hukum yaitu:

a.              Disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjama’ah.

b.              Disunnahkan bagi imam untuk memperkeras bacaan.

c.              Disunnahkan untuk membaca qunut pada separuh kedua bulan Ramadhan.

11. Memperbanyak bacaan Alquran.

12.  Memperbanyak melakukan kesunnahan-kesunnahan, seperti shalat Rawatib, shalat Dhuha, shalat Tasbih, dan sebagainya.

13.  Memperbanyak amal-amal shalih, seperti shadaqah, shilaturrahmi, menghadiri majlis taklim/pengajian, i’tikaf, umrah, menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan maksiat, memperbanyak doa, dan sebagainya.

14.  Lebih meningkatkan semangat ibadah pada 10 hari terakhir, mengejar lailatul qadar pada malam-malam tersebut, terutama pada tanggal-tanggal ganjilnya.

15. Lebih memperbanyak dalam menafkahi keluarganya.

16.  Meninggalkan banyak bergurau, terutama yang mengandung ejekan. Jika diejek oleh seseorang, harus segera ingat bahwa dirinya sedang berpuasa.

v      Hal-Hal yang Dimakruhkan dalam Berpuasa, ada 8 (delapan):

1.         Mengunyah sesuatu tanpa ada yang sampai ke tenggorokan (jika ada yang sampai ke tenggorokan, puasanya batal).

2.         Menyicipi makanan tanpa ada perlunya, (dengan syarat tidak ada makanan yang sampai ke tenggorokan, jika ada, puasanya batal). Adapun jika ada hajat, seperti untuk merasakan makanan, hukumnya tidak makruh.

3.         Hijamah (cantuk), yaitu mengeluarkan darah kotor, karena bisa menyebabkan tubuh menjadi lemah.

4.         Membuang (“nglepeh”) air dari mulut saat berbuka, karena bisa menghilangkan barakah puasa.

5.         Mandi dengan cara berendam, walaupun mandinya merupakan mandi wajib.

6.         Siwak / gosok gigi setelah Dzuhur, karena bisa menghilangkan bau mulut. Menurut Imam Nawawi, hukumnya tidak makruh.

7.         Terlalu kenyang saat berbuka atau sahur, dan banyak tidur, serta melakukan perbuatan yang tidak semestinya. Karena hal tersebut bisa menghilangkan hikmah puasa.

8.         Melakukan keinginan-keinginan yang mubah (boleh), yang biasanya dilakukan oleh indra penciuman (hidung), indra penglihatan (mata), indra pendengaran (telinga), dan sebagainya.

Special Edition : Puasa Part1

09/04/2009 Comments off

Pengertian Puasa

Puasa adalah menahan diri dari semua hal yang bisa membatalkannya, sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, dengan niat khusus.

v     Hukum Meninggalkan Puasa Ramadhan

Hukum orang yang meninggalkan puasa Ramadhan, seperti hukum orang yang meninggalkan shalat. Jika dia meninggalkan karena mengingkari hukumnya yang wajib, maka dia dihukumi kafir. Demikian pula dengan rukun Islam yang lain (zakat, haji, dsb).

Jika meninggalkan puasa karena malas dan menganggap remeh, sebagian ulama tidak menghukuminya kafir, namun dianggap tidak lengkap Islamnya, karena Rasulullah SAW mengibaratkan Islam seperti bangunan yang dibangun di atas 5 (lima) penyangga. Jika lengkap kelima penyangga tersebut, bangunan akan kokoh. Jika kurang lengkap, bangunan akan mudah roboh.

Jika seseorang meninggalkan puasa, hakim atau pemerintah wajib memerintahkannya untuk bertaubat dan memberinya sanksi. Jika tidak mau bertaubat, dalam hukum Islam, orang tersebut dipenjara dan tidak diberi makan dan minum sampai terbenamnya matahari (Maghrib). Orang tersebut tidak dihukumi kafir, namun dikhawatirkan akhir hayatnya mati dalam keadaaan su-ul khatimah. Na’udzubillah…

v     Hukum Puasa

Puasa mempunyai 4 (empat) macam hukum:

  1. Wajib, yaitu dalam 6 macam puasa:
    1. Puasa Ramadhan
    2. Puasa Qadla
    3. Puasa Kaffarah / penebus [seperti kaffarah dzhihar (menyamakan punggung istrinya dengan punggung ibunya), atau  kaffarah sebab berhubungan suami istri pada siang hari bulan Ramadhan].
    4. Puasa saat haji dan umrah, sebagai ganti dari menyembelih hewan ternak dalam pembayaran fidyah.
    5. Puasa dalam ritual shalat Istisqa (shalat memohon turunnya hujan), jika diperintahkan oleh pemerintah.
    6. Puasa nadzar.
  1. Sunnah, terbagi menjadi 3 (tiga) macam:

A.       Terulang tiap tahun, seperti puasa hari Arafah, puasa Tasu’a (tanggal 9), ‘Asyura (tanggal 10), dan tanggal 11 bulan Muharram, puasa 6 hari di bulan Syawwal, puasa pada bulan-bulan suci (yaitu bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab), puasa 10 hari pertama dari bulan Dzul Hijjah, dan sebagainya.

B.       Tidak terulang tiap tahun, seperti puasa al ayyam al biidh (“hari-hari putih”, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 pada tiap bulan hijriyyah), dan puasa al ayyam as suud (“hari-hari hitam”, yaitu tanggal 28, 29, dan 30 pada tiap bulan hijriyyah).

C.       Terulang tiap minggu, seperti puasa hari Senin dan Kamis.

Catatan:

–          Puasa sunnah yang paling afdhal adalah puasa Nabi Dawud, yaitu satu hari puasa satu hari tidak.

  1. Makruh, seperti puasa hari Jum’at saja, atau Sabtu saja, atau Ahad saja. Tidak makruh, jika digabung dengan yang lain, misalkan Jum’at dengan Sabtu, atau Sabtu dengan Minggu, atau 3 hari berturut-turut (Jum’at, Sabtu, dan Minggu). Makruh juga puasa tiap hari sepanjang tahun (puasa dahr) bagi orang yang khawatir puasa tersebut dapat membahayakan dirinya.

4. Haram, terbagi menjadi 2 (dua) bagian:

A.       Haram namun puasanya sah,yaitu puasanya seorang istri tanpa seizin suaminya, dan puasanya seorang budak sahaya tanpa seizin tuannya.

B.       Haram dan puasanya tidak sah, dalam 5 (lima) kasus:

1.     Puasa saat hari Raya Idul Fitri (1 Syawwal)

2.     Puasa saat hari Raya Idul Adha (10 Dzul Hijjah)

3.     Puasa saat hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzul Hijjah.

4.     Puasa separuh terakhir di bulan Syakban, yaitu tanggal 16, 17, 18 sampai akhir bulan Syakban.

5.     Puasa hari syak (ragu), yaitu puasa hari ke-30 pada bulan Syakban, jika sudah ramai dibicarakan tentang terlihatnya bulan / hilal.

Catatan:

– Kapankah boleh berpuasa pada hari syak (30 Syakban) atau pada separuh terakhir bulan Syakban?

Boleh dalam 3 (tiga) hal:

1.      Jika puasanya merupakan puasa wajib, seperti puasa qadla, kaffarah atau nadzar.

2.      Jika dia punya kebiasaan puasa sunnah, seperti puasa hari Senin dan Kamis. Sudah dihukumi menjadi kebiasaannya meskipun baru satu kali berpuasa sunnah tersebut.

3.      Jika separuh terakhir pada bulan tersebut sambung dengan hari sebelumnya, contohnya, seseorang berpuasa pada tanggal 15 Syakban, maka boleh baginya puasa tanggal 16. Jika boleh puasa tanggal 16, maka boleh baginya puasa tanggal 17, dan seterusnya sampai akhir bulan. Namun jika terputus dengan tidak puasa 1 hari, misalkan tanggal 18 Syakban kemudian dia tidak berpuasa, maka tanggal 19 dan seterusnya dia tidak boleh berpuasa lagi.

v     Syarat Sah Puasa

Artinya, jika sudah terpenuhi syarat-syarat 4 (empat) di bawah ini sah puasanya, yaitu:

  1. Islam

Dengan demikian dia harus terus dalam keadaan Islam sepanjang siang, jika sampai murtad / keluar dari agama Islam –na’udzubillah– meskipun hanya sekejap, maka puasanya batal.

  1. Berakal

Disyaratkan sepanjang hari itu dia harus terus dalam keadaan berakal. Jika seumpama sekejap saja dia gila, maka puasanya batal. Adapun hilangnya akal karena pingsan atau mabuk, akan dibahas secara terperinci pada pembahasan tentang hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

  1. Tidak haid atau nifas.

Dengan demikian, bagi orang wanita yang ingin berpuasa, dia harus suci dari haid dan nifas sepanjang siang. Jika keluar darah haid pada akhir siang (meskipun waktu berbuka tinggal sekejap saja), maka puasanya batal. Begitu juga jika dia suci / terputus haidnya di siang hari, kemudian dia berniat puasa, maka puasanya tersebut tidak sah, namun disunnahkan baginya untuk menahan diri dari hal yang bisa membatalkan puasa (dengan tanpa niat untuk berpuasa).

  1. Mengetahui bahwa di hari itu dia boleh berpuasa.

Artinya, bukan di hari yang dilarang untuk berpuasa, sebagaimana telah dibahas.

v     Syarat Wajib Puasa

Artinya, jika sudah terpenuhi 5 (lima) syarat ini, seseorang wajib berpuasa, yaitu:

  1. Islam

Dengan demikian,  orang kafir tidak dituntut di dunia untuk berpuasa. Adapun orang murtad, dia wajib meng-qadla puasa yang ditinggalkan saat dia murtad, jika dia sudah kembali lagi masuk Islam.

  1. Mukallaf

Yaitu baligh dan berakal. Adapun anak kecil, wajib bagi walinya (orang tua, kakek, dsb) untuk menyuruhnya berpuasa saat dia berumur 7 tahun. Jika sudah berumur 10 tahun tidak mau berpuasa, sang wali wajib memukulnya jika hal tersebut memungkinkan.

  1. Mampu

Baik secara indrawi maupun syar’i. Mampu secara indrawi maksudnya bukan orang yang sangat tua, atau sakit parah yang sulit sembuh. Mampu secara syar’i, artinya bukan orang yang sedang haid atau nifas.

  1. Sehat

Karena itu orang yang sakit tidak wajib berpuasa.

Ukuran sakit yang menjadikannya boleh tidak berpuasa: sekira jika tetap berpuasa, dikhawatirkan sakitnya tambah parah, atau sembuhnya menjadi lama.

  1. Muqim

Dengan demikian, puasa tidak wajib bagi orang yang sedang bepergian jauh (minimal 82 KM) dan perjalanannya merupakan perjalanan yang mubah/boleh, bukan untuk maksiat. Disyaratkan pula, dia berangkat sebelum terbitnya fajar.

Hukum yang afdhal bagi musafir adalah tetap berpuasa, jika tidak membahayakan dirinya. Jika membahayakan, maka diutamakan untuk tidak berpuasa.

v     Rukun-Rukun Berpuasa

Ada 2 (dua), yaitu:

1.      Niat, baik puasa sunnah maupun puasa wajib. Niat wajib untuk dilakukan setiap hari. Dan disunnahkan pada awal bulan Ramadhan untuk berniat puasa selama sebulan.

Niat puasa wajib, harus dilakukan pada malam hari. Waktunya sejak matahari terbenam (maghrib) dan berakhir hingga terbenamnya fajar (subuh). Adapun niat puasa sunnah, waktunya berakhir hingga waktu dzuhur. Dengan demikian, niat puasa sunnah, sah dilakukan meski setelah terbitnya fajar, namun dengan 2 (dua) syarat:

1.     Niat tersebut dilakukan sebelum masuk waktu Dzuhur.

2.     <SPAN dir=ltr>Sejak terbitnya fajar sampai masuk waktu Dzuhur tidak melakukan sesuatu pun yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan sebagainya.

Lafadz niat adalah: “Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa-i fardli syahri Ramadlaana li haadzihis sanati lillaahi ta’aala” (saya niat berpuasa besok untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala).

Perbedaan antara niat puasa wajib dengan niat puasa sunnah:

No

Niat Puasa Wajib

Niat Puasa Sunnah

1

Masuk waktunya sejak terbenamnya matahari (waktu Maghrib) sampai terbitnya fajar, dengan demikian wajib niat di malam hari. Masuk waktunya sejak terbenamnya matahari (waktu Maghrib) sampai bergesernya matahari di siang hari (waktu dzhuhur), dengan demikian tidak wajib niat di malam hari.

2

Wajib menentukan jenis puasanya, seperti puasa Ramadhan, puasa kaffarah, puasa nadzar, atau puasa qadla Tidak wajib menentukan jenis puasanya, kecuali jika puasa sunnahnya merupakan puasa yang waktunya tertentu, seperti puasa hari Arafah

3

Tidak boleh menggabungkan 2 puasa fardlu dalam satu hari, misalkan niat puasa nadzar dan niat puasa qadla Ramadlan. Boleh menggabungkan 2 puasa sunnah atau lebih dalam satu hari, misalkan niat puasa hari Senin dan niat puasa hari Arafah sekaligus (seumpama harinya bertepatan).

Catatan:

Dalam kasus yang bagaimanakah, sah puasa sunnah dengan niat yang dilakukan setelah terbitnya fajar, meskipun telah melakukan hal yang dapat membatalkan puasa (telah makan, atau minum, dsb)?

Contohnya adalah jika sudah menjadi kebiasaan seseorang berpuasa sunnah pada hari tertentu, seperti hari Senin atau hari Arafah. Kemudian di hari itu dia lupa dan makan di pagi hari misalnya, setelah itu dia ingat bahwa hari itu adalah hari Senin atau hari Arafah, maka sah niatnya dengan syarat dilakukan sebelum masuk waktu Dzuhur.

2. Meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Namun tidak batal jika hal-hal itu dilakukan karena lupa, atau dipaksa, atau karena tidak tahu, yang ketidaktahuannya karena udzur.

Ketidaktahuan seseorang dianggap udzur jika:

  1. Hidup jauh dari ulama.
  2. Baru masuk atau mengenal Islam.

Cerita Sedih..

09/03/2009 3 comments
Cerita sedih…

Alkisah terdapat seorang pemuda tanggung berusia belasan tahun, bernama UDIN.. Udin sangat menyukai seorang gadis, LELA, yang merupakan anak dari seorang kyai ternama di lingkungan masyarakatnya. Kyai yang biasa dipanggil PAK HAJI itu mengajar di banyak pengajian, di antaranya pengajian ibu-ibu, pengajian bapak-bapak, juga pengajian untuk para pemuda-pemudi.

Udin yang sangat menyukai Lela, akhirnya memutuskan untuk mengikuti pengajian yang dipimpin oleh Pak Haji itu, karena Lela aktif di situ. Semakin lama Udin semakin rajin dan cepat menangkap apa yang diajari oleh Pak Haji, akhirnya Udin tumbuh menjadi pemuda yang pandai mengaji.

Suatu hari, Udin tidak tahan untuk menunjukkan rasa sukanya pada Lela, tapi dia tau, Lela tidak akan mau menerima cintanya, karena Lela gadis yang SANGAT PATUH dan TAAT pada orang tuanya..

Setelah berfikir lama, akhirnya Udin memutuskan satu cara..

Saat itu Pak Haji sedang menunaikan shalat sunnah di Mushalla samping rumahnya selepas pengajian. Semua murid sudah pulang, tinggal Udin seorang. Ketika Pak Haji sedang dzikir, Udin menyembunyikan sandal Pak Haji di bawah pohon samping Mushalla. Saat Pak Haji hendak pulang, beliau mencari sandalnya. Ketika dilihatnya si Udin, Pak Haji bertanya :

Pak Haji : “Din, lu liat sendal gua kaga?”
Udin : “Sendal yang mana Pak Aji??”
Pak Haji : “Sendal yang biasa gua pake.. yang kulit..”
Udin : “Oh, yang itu, perasaan tadi dibawa pulang dah ama si Lela.”
Pak Haji : “Kok di bawa pulang? Ambilin dah Din, tolong. Masa iya gua pulang kaga pake sendal.”
Udin : “Iya, Pak Aji, bentar ya”

Berangkatlah Udin ke rumah Pak Haji yang notabene di samping Mushalla itu. Sampai di depan, udin mengetuk pintu rumah Pak Haji, dan ternyata Lela yang membuka pintu rumahnya.

Udin : “Assalamu’alaikum, La”
Lela : “Wa’alaikumussalam. Ada apa bang?”
Udin : “Gini La, Pak Aji NYURUH KAMU NYIUM SAYA”
Lela : “Hah?? Maksud abang Udin apaan sih? Masa baba gitu?”
Udin : “Bener La. Masa iya saya boong, nih saya tanyain ya”
Udin : (teriak ke arah Mushalla) : “Pak Ajiii,, GA DIKASIH NIIIIH”
Pak Haji : (teriak juga) : “KASIH LELAAAA…”

Lela yang kaget tidak percaya agak bengong sebentar, tapi karena dia anak yang sangat patuh pada orang tua, akhirnya mencium pipi kiri Udin. Udin yang seneng, mulai ngelunjak..
Udin : “La, yang kanan belom”
Lela : “Apa-apaan sih bang Udin !!!”
Udin : (teriak lagi ke Pak Haji) : “Pak Ajiiii,,, DIKASIHNYA CUMAN SEBELAAAAAH”
Pak Haji : (teriak lagi juga ke rumah) : “KASIH DUA-DUANYA NURLELAAAA…”

Akhirnya Lela nyerah, dia pun mencium pipi kanan Udin.. Dengan hati riang karna siasatnya berhasil, setelah berterima kasih ke Lela, Udin pun mengambil sandal kulit Pak Haji yang tadinya disembunyikan di bawah pohon samping Mushalla, kemudian memberikannya kepada Pak Haji yang sudah menunggu di teras Mushalla.

Udin : (sambil menyodorkan sandal kulit), “Ini Pak Aji, sendalnya. Bener kan ama si Lela.”
Pak Haji : (sambil mengusap-usap kepala Udin) : “Iya, makasih ya Din.”

Hahahaha……

sedihnya dimana ya?? 😆

cerita aslinya emg sedih..tp gw edit..lg males sedih2an ah… 😀

Categories: Jokes Tags: , , ,