Home > Artikel > Special Edition : Puasa Part1

Special Edition : Puasa Part1

09/04/2009

Pengertian Puasa

Puasa adalah menahan diri dari semua hal yang bisa membatalkannya, sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, dengan niat khusus.

v     Hukum Meninggalkan Puasa Ramadhan

Hukum orang yang meninggalkan puasa Ramadhan, seperti hukum orang yang meninggalkan shalat. Jika dia meninggalkan karena mengingkari hukumnya yang wajib, maka dia dihukumi kafir. Demikian pula dengan rukun Islam yang lain (zakat, haji, dsb).

Jika meninggalkan puasa karena malas dan menganggap remeh, sebagian ulama tidak menghukuminya kafir, namun dianggap tidak lengkap Islamnya, karena Rasulullah SAW mengibaratkan Islam seperti bangunan yang dibangun di atas 5 (lima) penyangga. Jika lengkap kelima penyangga tersebut, bangunan akan kokoh. Jika kurang lengkap, bangunan akan mudah roboh.

Jika seseorang meninggalkan puasa, hakim atau pemerintah wajib memerintahkannya untuk bertaubat dan memberinya sanksi. Jika tidak mau bertaubat, dalam hukum Islam, orang tersebut dipenjara dan tidak diberi makan dan minum sampai terbenamnya matahari (Maghrib). Orang tersebut tidak dihukumi kafir, namun dikhawatirkan akhir hayatnya mati dalam keadaaan su-ul khatimah. Na’udzubillah…

v     Hukum Puasa

Puasa mempunyai 4 (empat) macam hukum:

  1. Wajib, yaitu dalam 6 macam puasa:
    1. Puasa Ramadhan
    2. Puasa Qadla
    3. Puasa Kaffarah / penebus [seperti kaffarah dzhihar (menyamakan punggung istrinya dengan punggung ibunya), atau  kaffarah sebab berhubungan suami istri pada siang hari bulan Ramadhan].
    4. Puasa saat haji dan umrah, sebagai ganti dari menyembelih hewan ternak dalam pembayaran fidyah.
    5. Puasa dalam ritual shalat Istisqa (shalat memohon turunnya hujan), jika diperintahkan oleh pemerintah.
    6. Puasa nadzar.
  1. Sunnah, terbagi menjadi 3 (tiga) macam:

A.       Terulang tiap tahun, seperti puasa hari Arafah, puasa Tasu’a (tanggal 9), ‘Asyura (tanggal 10), dan tanggal 11 bulan Muharram, puasa 6 hari di bulan Syawwal, puasa pada bulan-bulan suci (yaitu bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab), puasa 10 hari pertama dari bulan Dzul Hijjah, dan sebagainya.

B.       Tidak terulang tiap tahun, seperti puasa al ayyam al biidh (“hari-hari putih”, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 pada tiap bulan hijriyyah), dan puasa al ayyam as suud (“hari-hari hitam”, yaitu tanggal 28, 29, dan 30 pada tiap bulan hijriyyah).

C.       Terulang tiap minggu, seperti puasa hari Senin dan Kamis.

Catatan:

–          Puasa sunnah yang paling afdhal adalah puasa Nabi Dawud, yaitu satu hari puasa satu hari tidak.

  1. Makruh, seperti puasa hari Jum’at saja, atau Sabtu saja, atau Ahad saja. Tidak makruh, jika digabung dengan yang lain, misalkan Jum’at dengan Sabtu, atau Sabtu dengan Minggu, atau 3 hari berturut-turut (Jum’at, Sabtu, dan Minggu). Makruh juga puasa tiap hari sepanjang tahun (puasa dahr) bagi orang yang khawatir puasa tersebut dapat membahayakan dirinya.

4. Haram, terbagi menjadi 2 (dua) bagian:

A.       Haram namun puasanya sah,yaitu puasanya seorang istri tanpa seizin suaminya, dan puasanya seorang budak sahaya tanpa seizin tuannya.

B.       Haram dan puasanya tidak sah, dalam 5 (lima) kasus:

1.     Puasa saat hari Raya Idul Fitri (1 Syawwal)

2.     Puasa saat hari Raya Idul Adha (10 Dzul Hijjah)

3.     Puasa saat hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzul Hijjah.

4.     Puasa separuh terakhir di bulan Syakban, yaitu tanggal 16, 17, 18 sampai akhir bulan Syakban.

5.     Puasa hari syak (ragu), yaitu puasa hari ke-30 pada bulan Syakban, jika sudah ramai dibicarakan tentang terlihatnya bulan / hilal.

Catatan:

– Kapankah boleh berpuasa pada hari syak (30 Syakban) atau pada separuh terakhir bulan Syakban?

Boleh dalam 3 (tiga) hal:

1.      Jika puasanya merupakan puasa wajib, seperti puasa qadla, kaffarah atau nadzar.

2.      Jika dia punya kebiasaan puasa sunnah, seperti puasa hari Senin dan Kamis. Sudah dihukumi menjadi kebiasaannya meskipun baru satu kali berpuasa sunnah tersebut.

3.      Jika separuh terakhir pada bulan tersebut sambung dengan hari sebelumnya, contohnya, seseorang berpuasa pada tanggal 15 Syakban, maka boleh baginya puasa tanggal 16. Jika boleh puasa tanggal 16, maka boleh baginya puasa tanggal 17, dan seterusnya sampai akhir bulan. Namun jika terputus dengan tidak puasa 1 hari, misalkan tanggal 18 Syakban kemudian dia tidak berpuasa, maka tanggal 19 dan seterusnya dia tidak boleh berpuasa lagi.

v     Syarat Sah Puasa

Artinya, jika sudah terpenuhi syarat-syarat 4 (empat) di bawah ini sah puasanya, yaitu:

  1. Islam

Dengan demikian dia harus terus dalam keadaan Islam sepanjang siang, jika sampai murtad / keluar dari agama Islam –na’udzubillah– meskipun hanya sekejap, maka puasanya batal.

  1. Berakal

Disyaratkan sepanjang hari itu dia harus terus dalam keadaan berakal. Jika seumpama sekejap saja dia gila, maka puasanya batal. Adapun hilangnya akal karena pingsan atau mabuk, akan dibahas secara terperinci pada pembahasan tentang hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

  1. Tidak haid atau nifas.

Dengan demikian, bagi orang wanita yang ingin berpuasa, dia harus suci dari haid dan nifas sepanjang siang. Jika keluar darah haid pada akhir siang (meskipun waktu berbuka tinggal sekejap saja), maka puasanya batal. Begitu juga jika dia suci / terputus haidnya di siang hari, kemudian dia berniat puasa, maka puasanya tersebut tidak sah, namun disunnahkan baginya untuk menahan diri dari hal yang bisa membatalkan puasa (dengan tanpa niat untuk berpuasa).

  1. Mengetahui bahwa di hari itu dia boleh berpuasa.

Artinya, bukan di hari yang dilarang untuk berpuasa, sebagaimana telah dibahas.

v     Syarat Wajib Puasa

Artinya, jika sudah terpenuhi 5 (lima) syarat ini, seseorang wajib berpuasa, yaitu:

  1. Islam

Dengan demikian,  orang kafir tidak dituntut di dunia untuk berpuasa. Adapun orang murtad, dia wajib meng-qadla puasa yang ditinggalkan saat dia murtad, jika dia sudah kembali lagi masuk Islam.

  1. Mukallaf

Yaitu baligh dan berakal. Adapun anak kecil, wajib bagi walinya (orang tua, kakek, dsb) untuk menyuruhnya berpuasa saat dia berumur 7 tahun. Jika sudah berumur 10 tahun tidak mau berpuasa, sang wali wajib memukulnya jika hal tersebut memungkinkan.

  1. Mampu

Baik secara indrawi maupun syar’i. Mampu secara indrawi maksudnya bukan orang yang sangat tua, atau sakit parah yang sulit sembuh. Mampu secara syar’i, artinya bukan orang yang sedang haid atau nifas.

  1. Sehat

Karena itu orang yang sakit tidak wajib berpuasa.

Ukuran sakit yang menjadikannya boleh tidak berpuasa: sekira jika tetap berpuasa, dikhawatirkan sakitnya tambah parah, atau sembuhnya menjadi lama.

  1. Muqim

Dengan demikian, puasa tidak wajib bagi orang yang sedang bepergian jauh (minimal 82 KM) dan perjalanannya merupakan perjalanan yang mubah/boleh, bukan untuk maksiat. Disyaratkan pula, dia berangkat sebelum terbitnya fajar.

Hukum yang afdhal bagi musafir adalah tetap berpuasa, jika tidak membahayakan dirinya. Jika membahayakan, maka diutamakan untuk tidak berpuasa.

v     Rukun-Rukun Berpuasa

Ada 2 (dua), yaitu:

1.      Niat, baik puasa sunnah maupun puasa wajib. Niat wajib untuk dilakukan setiap hari. Dan disunnahkan pada awal bulan Ramadhan untuk berniat puasa selama sebulan.

Niat puasa wajib, harus dilakukan pada malam hari. Waktunya sejak matahari terbenam (maghrib) dan berakhir hingga terbenamnya fajar (subuh). Adapun niat puasa sunnah, waktunya berakhir hingga waktu dzuhur. Dengan demikian, niat puasa sunnah, sah dilakukan meski setelah terbitnya fajar, namun dengan 2 (dua) syarat:

1.     Niat tersebut dilakukan sebelum masuk waktu Dzuhur.

2.     <SPAN dir=ltr>Sejak terbitnya fajar sampai masuk waktu Dzuhur tidak melakukan sesuatu pun yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan sebagainya.

Lafadz niat adalah: “Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa-i fardli syahri Ramadlaana li haadzihis sanati lillaahi ta’aala” (saya niat berpuasa besok untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala).

Perbedaan antara niat puasa wajib dengan niat puasa sunnah:

No

Niat Puasa Wajib

Niat Puasa Sunnah

1

Masuk waktunya sejak terbenamnya matahari (waktu Maghrib) sampai terbitnya fajar, dengan demikian wajib niat di malam hari. Masuk waktunya sejak terbenamnya matahari (waktu Maghrib) sampai bergesernya matahari di siang hari (waktu dzhuhur), dengan demikian tidak wajib niat di malam hari.

2

Wajib menentukan jenis puasanya, seperti puasa Ramadhan, puasa kaffarah, puasa nadzar, atau puasa qadla Tidak wajib menentukan jenis puasanya, kecuali jika puasa sunnahnya merupakan puasa yang waktunya tertentu, seperti puasa hari Arafah

3

Tidak boleh menggabungkan 2 puasa fardlu dalam satu hari, misalkan niat puasa nadzar dan niat puasa qadla Ramadlan. Boleh menggabungkan 2 puasa sunnah atau lebih dalam satu hari, misalkan niat puasa hari Senin dan niat puasa hari Arafah sekaligus (seumpama harinya bertepatan).

Catatan:

Dalam kasus yang bagaimanakah, sah puasa sunnah dengan niat yang dilakukan setelah terbitnya fajar, meskipun telah melakukan hal yang dapat membatalkan puasa (telah makan, atau minum, dsb)?

Contohnya adalah jika sudah menjadi kebiasaan seseorang berpuasa sunnah pada hari tertentu, seperti hari Senin atau hari Arafah. Kemudian di hari itu dia lupa dan makan di pagi hari misalnya, setelah itu dia ingat bahwa hari itu adalah hari Senin atau hari Arafah, maka sah niatnya dengan syarat dilakukan sebelum masuk waktu Dzuhur.

2. Meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Namun tidak batal jika hal-hal itu dilakukan karena lupa, atau dipaksa, atau karena tidak tahu, yang ketidaktahuannya karena udzur.

Ketidaktahuan seseorang dianggap udzur jika:

  1. Hidup jauh dari ulama.
  2. Baru masuk atau mengenal Islam.
%d bloggers like this: