Home > Artikel > Special Edition : Puasa Part2

Special Edition : Puasa Part2

Kewajiban Puasa Ramadhan

Wajib Puasa Ramadhan setelah didapati salah satu dari 5 (lima) hal. Dua hal bersifat umum, dan tiga hal bersifat khusus.

Adapun dua hal yang bersifat umum adalah:

  1. Setelah sempurnanya bulan Syakban 30 hari.
  2. Terlihatnya bulan/hilal dengan persaksian dari seorang yang adil (bukan fasiq), lelaki, merdeka, rasyid (bijaksana), tidak tuli, tidak buta, sadar, tidak melakukan dosa besar, tidak punya kebiasaan selalu melakukan dosa kecil, taatnya lebih banyak dari pada maksiatnya.

Maksud “bersifat umum” adalah: wajib puasa bagi seluruh penduduk wilayah tersebut, juga bagi orang yang berada dalam satu mathla’ (terbit dan terbenamnya matahari waktunya sama), ini menurut pendapat Imam Nawawi. Sedang menurut Imam Rafi’i, wajib atas penduduk yang berada di wilayah tersebut dan juga penduduk yang berada sampai sepanjang jarak qashar (82 Km).

Adapun tiga hal yang bersifat khusus adalah:

  1. Dengan melihat hilal, maka wajib bagi orang tersebut untuk berpuasa, meski dia orang yang fasiq.
  2. Seseorang diberitahu tentang terlihatnya hilal. Dalam hal ini ada 2 (dua) kemungkinan:

–          Jika pembawa berita adalah orang yang dapat dipercaya, wajib puasa di hari itu, baik yang menerima berita yakin dengan kebenaran beritanya atau tidak.

–          Jika pembawa berita bukan orang yang dapat dipercaya, maka tidak wajib puasa hari itu, kecuali jika si penerima berita yakin dengan kebenaran beritanya.

  1. Dengan sangkaan yang merupakan hasil ijtihad,  seperti mendengar semacam petasan atau ‘blenggur’ yang biasanya digunakan untuk menandai masuknya bulan Ramadhan.

v     Permasalahan-Permasalahan Penting tentang Terlihatnya Hilal

1.           Seseorang mendapat berita dari orang yang dia yakini kebenaran beritanya, bahwa hilal telah terlihat, kemudian dia berpuasa Ramadhan. Setelah 30 hari berpuasa Ramadhan, hilal untuk menandai berakhirnya bulan Ramadhan dan datangnya bulan Syawwal tidak kunjung terlihat juga, apakah boleh dia tidak berpuasa pada hari ke-31, walaupun hilal saat itu tidak terlihat?

Menurut Imam Ramli, dia boleh tidak berpuasa, namun dengan cara yang tidak ditampak-tampakkan di depan umum. Sedang menurut Imam Ibnu Hajar, dia tetap wajib berpuasa.

2.           Jika seseorang melakukan perjalanan, berangkat dari daerahnya di akhir bulan Syakban dan dia dalam keadaan tidak berpuasa karena di daerahnya hilal belum terlihat. Setelah sampai di daerah tujuan, dia mendapati penduduk daerah tersebut sedang berpuasa karena di wilayah tersebut hilal telah terlihat, bagaimanakah hukumnya? Atau sebaliknya, dia bepergian dalam keadaan berpuasa karena di daerahnya hilal telah terlihat, kemudian di daerah tujuan, penduduknya belum berpuasa, bagaimanakah hukumnya?

Dalam kasus pertama, jika orang tersebut mendapati mereka sedang berpuasa, maka orang tersebut wajib pula berpuasa seperti penduduk daerah tersebut. Sedang dalam kasus kedua, jika orang tersebut mendapati mereka belum berpuasa, menurut Imam Ramli dia membatalkan puasanya. Sedang menurut Imam Ibnu Hajar, dia tidak boleh membatalkan puasanya, karena puasanya tersebut dibangun atas keyakinan terlihatnya hilal, maka dia tidak boleh melanggar keyakinannya tersebut.

3.           Jika seseorang melakukan perjalanan dari wilayahnya pada akhir bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa, karena hilal belum terlihat, atau sebaliknya, dia sudah tidak berpuasa lagi karena hilal telah terlihat. Setelah sampai di daerah tujuan, dia mendapati penduduknya sudah tidak berpuasa sedang dirinya masih berpuasa, atau sebaliknya, dia mendapati penduduk daerah tersebut masih berpuasa, sedang dirinya sudah tidak berpuasa, bagaimanakah hukumnya?

Dalam dua contoh kasus di atas, menurut pendapat terkuat, dia wajib mengikuti apa yang dilakukan oleh penduduk daerah tersebut, karena saat itu dia menjadi bagian penduduk daerah tersebut.

v     Sunnah-Sunnah Berpuasa dan Bulan Ramadhan

1.       Mempercepat (ta’jil) buka puasa jika sudah yakin masuk waktu berbuka (yakni terbenamnya matahari). Jika ragu, maka dia harus berhati-hati dengan menunda sebentar buka puasa sampai merasa yakin dengan masuknya waktu berbuka.

2.       Sahur, walaupun dengan seteguk air. Masuk waktu sahur mulai pertengahan malam.

3.       Mengakhirkan sahur di akhir malam. Disunnahkan untuk berhenti makan sebelum terbitnya fajar seukuran membaca 50 ayat (seperempat jam).

4.       Berbuka dengan kurma muda (ruthab), jika tidak ada maka dengan kurma, jika tidak ada maka dengan air zamzam, jika tidak ada maka dengan air biasa, jika tidak ada maka dengan makanan manis yang masak tanpa menggunakan api (seperti madu atau kismis), jika tidak ada maka makanan manis yang masak dengan api.

5. Berdoa saat berbuka, lafadz yang terpendek adalah: “Allahumma laka shumtu, wa bika aamantu, wa ‘ala rizqika afthartu”.

6. Memberi makan untuk orang yang berbuka.

7.       Jika berhadats besar, disunnahkan mandi janabah / mandi besar sebelum terbit fajar.

8.       Mandi di malam hari setiap ba’da Maghrib di bulan Ramadhan, supaya lebih giat untuk qiyamul lail (tarawih, tadarrus, dll).

9.       Senantiasa melaksanakan shalat Tarawih selama bulan Ramadhan.

10.  Senantiasa melaksanakan shalat Witir. Shalat Witir pada bulan Ramadhan mempunyai kekhususan hukum yaitu:

a.              Disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjama’ah.

b.              Disunnahkan bagi imam untuk memperkeras bacaan.

c.              Disunnahkan untuk membaca qunut pada separuh kedua bulan Ramadhan.

11. Memperbanyak bacaan Alquran.

12.  Memperbanyak melakukan kesunnahan-kesunnahan, seperti shalat Rawatib, shalat Dhuha, shalat Tasbih, dan sebagainya.

13.  Memperbanyak amal-amal shalih, seperti shadaqah, shilaturrahmi, menghadiri majlis taklim/pengajian, i’tikaf, umrah, menjaga hati dan anggota tubuh dari perbuatan maksiat, memperbanyak doa, dan sebagainya.

14.  Lebih meningkatkan semangat ibadah pada 10 hari terakhir, mengejar lailatul qadar pada malam-malam tersebut, terutama pada tanggal-tanggal ganjilnya.

15. Lebih memperbanyak dalam menafkahi keluarganya.

16.  Meninggalkan banyak bergurau, terutama yang mengandung ejekan. Jika diejek oleh seseorang, harus segera ingat bahwa dirinya sedang berpuasa.

v      Hal-Hal yang Dimakruhkan dalam Berpuasa, ada 8 (delapan):

1.         Mengunyah sesuatu tanpa ada yang sampai ke tenggorokan (jika ada yang sampai ke tenggorokan, puasanya batal).

2.         Menyicipi makanan tanpa ada perlunya, (dengan syarat tidak ada makanan yang sampai ke tenggorokan, jika ada, puasanya batal). Adapun jika ada hajat, seperti untuk merasakan makanan, hukumnya tidak makruh.

3.         Hijamah (cantuk), yaitu mengeluarkan darah kotor, karena bisa menyebabkan tubuh menjadi lemah.

4.         Membuang (“nglepeh”) air dari mulut saat berbuka, karena bisa menghilangkan barakah puasa.

5.         Mandi dengan cara berendam, walaupun mandinya merupakan mandi wajib.

6.         Siwak / gosok gigi setelah Dzuhur, karena bisa menghilangkan bau mulut. Menurut Imam Nawawi, hukumnya tidak makruh.

7.         Terlalu kenyang saat berbuka atau sahur, dan banyak tidur, serta melakukan perbuatan yang tidak semestinya. Karena hal tersebut bisa menghilangkan hikmah puasa.

8.         Melakukan keinginan-keinginan yang mubah (boleh), yang biasanya dilakukan oleh indra penciuman (hidung), indra penglihatan (mata), indra pendengaran (telinga), dan sebagainya.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: