Home > Artikel > Special Edition :Puasa Part3

Special Edition :Puasa Part3

Hal-Hal yang Dapat Membatalkan Puasa, terbagi menjadi 2 (dua) macam:

I.                   Membatalkan pahala puasa, ada 6 (enam):

1.     Ghibah, yaitu menyebutkan sesuatu tentang seseorang ketika orang tersebut tidak ada, sekiranya dia mendengar, dia akan merasa tidak suka, walaupun isi pembicaraan itu benar adanya.

2.     Namimah, yaitu menyebarkan berita dengan tujuan terjadinya fitnah.

3. Bohong.

4.     Melihat sesuatu yang diharamkan, atau melihat sesuatu yang halal namun dengan syahwat.

5. Sumpah palsu.

6.     Berkata keji, atau melakukan perbuatan keji.

II. Membatalkan puasa, baik membatalkan pahalanya maupun puasa itu sendiri (karenanya wajib qadla):

1. Murtad, yakni keluar dari Islam, baik dengan niat dalam hati, perkataan, perbuatan, walaupun perbuatan murtad tersebut sekejap saja.

2. Haid, nifas, atau melahirkan, walaupun sekejap saja di siang hari.

3. Gila, walaupun sebentar saja.

4. Pingsan dan mabuk (jika memakan waktu sepanjang siang). Adapun jika siuman, walaupun sebentar saja, menurut Imam Ramli sah puasanya. Menurut Ibnu Hajar, batal puasanya jika mabuknya disengaja, walaupun cuma sebentar.

5.     Berhubungan badan, dengan sengaja, tahu bahwa hukumnya haram, dan tidak dipaksa.

Jika seseorang ‘merusak’ puasanya di bulan Ramadhan, di siang hari, dengan berhubungan badan ‘secara sempurna’ (masuknya kelamin laki-laki ke kelamin wanita), dengan melakukan itu dia berdosa karena dia sedang berpuasa (artinya, bukan sedang bepergian jauh dan mubah, dan bukan karena perbuatan zina dalam perjalanan itu), maka wajib atasnya ‘menerima’ 5 (lima) dampak:

1.     Dia berdosa

2.     Wajib untuk tetap tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa (makan, minum, dsb)

3.     Wajib di-ta’zir, yaitu menerima hukuman dari hakim/pemerintah, jika dia tidak bertaubat.

4.     Wajib meng-qadla puasanya.

5.     Wajib melakukan kaffarah ‘udzma, yaitu salah satu dari 3 hal (secara berurutan, artinya, tidak boleh pindah ke urutan kedua jika mampu melakukan urutan pertama), yaitu:

a.  Membebaskan budak muslim, atau

b.              Puasa dua bulan berturut-turut, atau

c.              Memberi makanan 60 orang miskin, setiap orang miskin satu mud.

Catatan:

–         Kaffarah ini wajib atas orang laki-laki, tidak atas wanita, karena dengan masuknya kelamin laki-laki, sang wanita sudah menjadi batal puasanya.

–         Kaffarah terulang dengan terulangnya hari. Artinya, jika dia melakukan hubungan badan tersebut, misalkan, selama dua hari, maka dia wajib membayar kaffarah dua kali.

6.     Sampainya suatu benda (bukan angin yang tidak berwujud atau aroma rasa) ke tempat makanan dan obat (tenggorokan, lambung, otak, dsb) melalui lobang terbuka dalam tubuh.

Dengan demikian, tidak mengapa, misalkan, ada benda masuk melalui lobang yang tidak terbuka, seperti minyak yang masuk melalui pori-pori kulit. Menurut Madzhab Syafi’i, semua lobang adalah terbuka, kecuali mata.

v     Beberapa permasalahan penting dalam hal ini:

1.     Hukum suntik boleh jika darurat (sangat dibutuhkan). Namun para ulama berbeda pendapat, apakah dapat membatalkan puasa atau tidak.

–         Pendapat pertama mengatakan suntik dapat membatalkan puasa secara mutlak, karena benda yang disuntikkan sampai ke jalur makanan.

–         Sedang pendapat kedua mengakatan, suntik tidak membatalkan puasa secara mutlak, karena benda yang disuntikkan sampai ke jalur makanan tidak melalui lobang terbuka dalam tubuh.

–         Pendapat ketiga memperinci; jika benda yang disuntikkan merupakan makanan, puasanya batal. Jika bukan merupakan makanan, maka dilihat: jika suntikan di urat, maka membatalkan puasa. Jika tidak, seperti di otot, maka tidak membatalkan puasa.

2.     Riak, hukumnya diperinci:

–         Jika sampai keluar ‘batas luar’, kemudian ditelan, maka puasanya batal.

–         Jika sampai ‘batas dalam’ saja, kemudian ditelan, maka puasanya tidak batal.

Batas luar adalah tempat keluarnya huruf kha’ (   ). Sedang batas dalam adalah tempat keluarnya huruf ha’ besar (    ).

3.     Hukum menelan air ludah, tidak membatalkan puasa, karena sangat sulit dihindari, namun dengan 3 (tiga) syarat:

a.      Air ludah tersebut murni, tidak bercampur benda atau materi lain.

b.      Air ludah tersebut suci, tidak bercampur benda najis seperti darah.

c.      Air ludah tersebut berada di dalam, seperti di mulut atau lidah. Dengan demikian, jika dia menelan air ludah yang sudah berada di bagian bibir yang berwarna merah, maka puasanya batal.

4.     Hukum masuknya air dengan tanpa sengaja saat mandi, diperinci:

–         jika mandi tersebut disyari’atkan (diperintahkan oleh syariat), seperti mandi wajib / mandi janabah, atau mandi sunnah (seperti mandi sebelum shalat Jum’at), maka puasanya tidak batal, dengan syarat mandinya dengan cara menyiramkan air. Jika dengan cara menyelam di air, maka puasanya batal.

–         Jika mandinya tidak disyari’atkan, seperti mandi hanya untuk menyegarkan badan, atau untuk membersihkan badan, maka jika ada air masuk, batal puasanya, meskipun tidak disengaja, baik mandi dengan cara menyiramkan air atau menyelam di air.

5.     Hukum jika ada air yang tertelan tanpa disengaja saat berkumur atau memasukkan air ke dalam hidung. Dalam hal ini hukumnya terperinci:

a. Jika berkumur itu disyari’atkan, misalkan dalam  wudlu atau mandi besar, maka dilihat dahulu:

– Jika berkumurnya tidak dengan sangat, kemudian ada air yang tertelan, maka puasanya tidak batal.

– Jika berkumur dengan sangat, kemudian ada air yang tertelan, maka puasanya batal. Karena terlalu berlebihan dalam berkumur saat puasa hukumnya makruh.

b. Jika berkumurnya bukan termasuk perkara yang disyari’atkan, seperti berkumur dalam berwudlu atau mandi namun yang ke-empat kalinya (padahal yang disunnahkan hanya tiga kali), atau berkumur untuk menyegarkan mulut, dan sebagainya, kemudian ada air yang tertelan, maka puasanya batal, meskipun berkumurnya tidak dengan sangat.

7. Mengeluarkan mani (sperma), baik dengan tangan, atau tangan istrinya, atau dengan berhayal, atau dengan melihat (jika dengan berhayal dan melihat itu dia tahu kalau akan mengeluarkan sperma), atau dengan tidur berbaring bersama istrinya. Jika sperma keluar dengan salah satu sebab di atas, maka puasanya batal.

Ringkasan masalah dalam permasalahan ini adalah, bahwa keluarnya air mani terkadang membatalkan dan terkadang tidak membatalkan.

I. Membatalkan puasa, dalam 2 (dua) kondisi:

a.      Dengan cara mengeluarkannya dengan sengaja, dengan cara apapun.

b.      Jika menyentuh atau berhubungan dengan istrinya secara langsung tanpa penutup / pembatas semacam kain atau yang lain.

II. Tidak membatalkan puasa, dalam 2 (dua) kondisi:

a.          Jika air mani keluar tanpa menyentuh atau berhubungan, seperti sebab berhayal atau melihat sesuatu (kecuali jika dengan berhayal dan melihat itu dia tahu kalau akan mengeluarkan sperma, maka puasanya batal).

b.          Jika keluar karena menyentuh, namun dengan menggunakan penutup/pembatas.

Catatan:

Hukum mencium saat puasa adalah haram jika sampai membangkitkan syahwat. Jika tidak sampai membangkitkan syahwat maka hukumnya makruh. Mencium tidak membatalkan puasa, kecuali jika sampai mengeluarkan air mani.

8. Muntah dengan sengaja.

Muntah dapat membatalkan puasa, walau hanya sedikit. Yang dimaksud dengan muntahan adalah makanan yang keluar lagi, setelah sampai di tenggorokan, walaupun berupa air, atau makanan, walaupun belum berubah rasa dan warnanya. Jika muntah dengan tidak disengaja, puasanya tidak batal.

Jika seseorang muntah maka mulutnya menjadi najis, dengan demikian dia wajib:

–         membersihkan mulutnya dengan air, dan

–         menyangatkan dalam berkumur sampai air kumuran dapat membersihkan seluruh bagian mulutnya dalam batas luar (tempat keluarnya huruf kha’/    ). Dalam kasus ini, jika ada air yang tertelan dengan tanpa sengaja, puasanya tidak batal, karena menghilangkan najis termasuk perkara yang disyari’atkan (diperintah oleh syari’at).

v     Jika seseorang puasanya batal, maka apa yang diwajibkan atasnya?

Ada 4 (empat) macam hukum:

1.     Wajib meng-qadla dan membayar fidyah, yaitu bagi dua kelompok orang:

a.              Bagi orang yang tidak berpuasa karena mengkhawatirkan keselamatan atau kesehatan orang lain, seperti orang hamil yang menghawatirkan kondisi janinnya, atau wanita menyusui yang menghawatirkan kondisi bayi yang disusuinya.

Adapun jika dia menghawatirkan kondisinya sekaligus menghawatirkan kondisi janin/bayinya, maka hanya diwajibkan untuk meng-qadla saja, tanpa membayar fidyah.

b.              Bagi orang yang mempunyai kewajiban meng-qadla, namun hingga datang bulan Ramadhan lain, dia belum juga meng-qadla, dengan tanpa adanya udzur/halangan.

Fidyah adalah satu mud tiap harinya, dari makanan pokok suatu daerah (beras, gandum, sagu, atau yang lain). Fidyah berulang dengan berulangnya tahun. Artinya, jika lewat Ramadhan sampai dua kali dia tidak meng-qadla puasanya, maka tiap hari di mana dia meninggalkan puasa, dia wajib membayar dua mud, demikian seterusnya.

2.     Wajib qadla, tanpa membayar fidyah, yaitu bagi orang yang pingsan, atau lupa niat, atau sengaja membatalkan puasa, bukan dengan cara bersetubuh (karena dengan bersetubuh, ada pembahasan hukum tersendiri).

3.     Wajib fidyah, tanpa wajib qadla, yaitu bagi orang yang sangat tua, dan orang sakit yang sulit diharapkan kesembuhannya.

4.     Tidak wajib membayar fidyah, juga tidak wajib qadla, seperti orang gila yang kegilaanya tidak disengaja.

v      Beberapa keadaan diwajibkan untuk qadla, namun tetap harus meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa (makan, minum, dll) sampai Maghrib, ada 6 keadaan, yaitu:

  1. Bagi orang yang sengaja membatalkan puasanya.
  2. Bagi orang yang tidak niat di malam hari, meskipun karena lupa.
  3. Bagi orang yang sahur karena mengira masih malam / belum terbit fajar, ternyata tidak.
  4. Bagi orang yang berbuka puasa karena mengira sudah Maghrib, ternyata belum.
  5. Bagi orang yang tidak berpuasa karena mengira / meyakini masih tanggal 30 Syakban, ternyata hari itu sudah masuk Ramadhan.
  6. Bagi orang yang kemasukan air karena perbuatan yang tidak disyari’atkan (tidak diperintahkan oleh syariat), seperti berkumur, memasukkan air ke hidung, atau mandi untuk menyegarkan badan.

v      Beberapa kondisi yang tidak membatalkan puasa, walaupun kemasukan benda lewat lobang yang terbuka dalam tubuh, ada 7, yaitu:

  1. Karena lupa.
  2. Karena tidak mengetahui bahwa hal itu dapat membatalkan puasanya, dan ketidakmengertiannya memang termasuk udzur (sebagaimana telah dijelaskan).
  3. Karena dipaksa (tentang syarat hukum paksaan, telah dijelaskan dalam Bab Shalat).
  4. Karena kemasukan melalui aliran ludah yang ada di antara gigi-giginya.
  5. Karena kemasukan debu jalan.
  6. Karena kemasukan hamburan ayakan tepung atau sejenisnya.
  7. Karena kemasukan lalat yang terbang atau sejenisnya.

v     Beberapa Permasalahan Penting dalam Puasa

v      Jika di siang hari seorang anak baligh, atau seorang musafir mukim (sampai di daerahnya, atau memutuskan untuk tinggal di suatu daerah), atau seorang yang sakit sembuh, dan mereka semua saat itu dalam keadaan berpuasa, haram bagi mereka untuk membatalkan puasanya dan wajib meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

v      Jika seorang wanita suci dari haid atau nifas, atau seseorang sembuh dari gilanya, atau seorang kafir masuk Islam di siang hari bulan Ramadhan, mereka dianjurkan untuk meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Dan bagi orang yang gila dan orang kafir tadi, tidak wajib qadla.

v      Seorang yang murtad (keluar dari Islam), wajib meng-qadla puasa yang ditinggalkannya selama dia murtad, walaupun di tengah kemurtadannya, dia gila.

v      Termasuk kesalahan yang sering terjadi di masyarakat adalah saat mereka mendengar suara adzan Subuh, mereka bersegera minum, dengan keyakinan bolehnya hal itu selama muadzzin masih mengumandangkan adzan. Padahal hal itu tidak boleh. Dengan demikian, jika dia melakukan hal itu, maka puasanya batal. Jika puasanya merupakan puasa wajib, dia wajib meng-qadla-nya.

Hal ini karena adzan tidak dikumandangkan kecuali sudah masuk waktu fajar/Subuh. Dengan demikian, jika orang tadi minum saat muadzzin mengumandangkan adzan, berarti dia minum saat fajar telah terbit, puasanya pun menjadi tidak sah (namun dia tetap harus meneruskan untuk tidak makan, minum, dan sebagainya sampai Maghrib).

v     Jika seseorang meninggal dunia, padahal dia masih punya tanggungan qadla puasa atau tanggungan kaffarah, maka boleh bagi walinya berpuasa untuk melunasi tanggungan kerabatnya yang meninggal dunia tersebut, atau mengeluarkan satu mud untuk tiap satu harinya.

v      Boleh bagi seseorang untuk membatalkan puasanya jika puasanya merupakan puasa sunnah, walaupun dengan tanpa udzur/halangan. Namun jika puasa wajib (Ramadhan, qadla, nadzar, atau yang lain), tidak boleh dibatalkan.

v      Puasa wishal (puasa dua hari berturut-turut tanpa buka puasa / makan, minum atau yang lainnya) hukumnya haram.

v      Jika seseorang melihat orang lain yang berpuasa sedang makan, jika dzahir sifat orang tersebut adalah taqwa, maka disunnahkan untuk diingatkan, namun jika dzahir sifatnya adalah suka meremehkan perintah-perintah Allah, maka wajib diingatkan.

semoga info ini dapat menambahkan pengetahuan teman2 skalian…aminn..🙂

artikel ini di copas  dari :http://fariskhoirulanam.multiply.com/journal/item/41/Fiqih_Praktis_-_Seputar_Hukum_Puasa

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: